Sejarah Grup Musik Gigi


BIODATA PERSONEL GIGI
1. ARMAND MAULANA

Nama asli / lengkap : Tubagus Armand Maulana
Tempat / tgl lahir : Bandung, 4 April 1971
Motto hidup : " FIGHT TO GET MY DESIRE "
Vocalis favorit : Massive Attack, William Orbit, Dian Pramana Poetra
Jenis music favorit : Semua jenis musik
Album solo : Kau Tetap Milikku (1992)
Group : NEXT BAND (1990)
TRIO LIBELS (1991)
GIGI (1994 - Sekarang)
Prоfіl lеngkар

2. DEWA BUDJANA
Nama asli / lengkap : I Dewa Gede Budjana
Tempat / tgl lahir : Waikabubak, 30 Agustus 1963
Motto hidup : " TAT TWAM ASI "
Musisi favorit : Keith Jarret , Jeff Beck , Jaco Pastorius
Jenis music favorit : Traditional
Album solo : - ALBUM SOLO "NUSA DAMAI" (1997)
- ALBUM ROHANI "NYANYIAN DHARMA" (1998)
- ALBUM SOLO "GITARKU" (2000)
- ALBUM SOLO "SAMSARA" (2003)
Group : - SQUIRRELL (1980 - 1985)
- SPIRIT (1989 - 1992)
- JAVA JAZZ (1993 - 1994)
- GIGI (1994 - Sekarang)
PRоfіl Lеngkар atau WEbѕіtе PRіbаdі

3. THOMAS RAMDHAN
Nama sahih / lengkap : Thomas Ramdhan
Tempat / tgl lahir : Bandung, 5 Maret 1967
Motto hidup : " MENIKMATI DAN MENSYUKURI APA YANG ADA "
Bassist favorit : Yance Manusama,Jimmy Suhendra, Yuke Sumeru,
Erwin Gutawa, Billy Sheehan
Jenis music favorit : Rock
Group : GIGI (1994 - Sekarang)
PRоfіl Lеngkар


4. GUSTI HENDY
Nama sahih / lengkap : Gusti Erhandy Rakhmatullah
Tempat / tgl lahir : Banjarmasin, 10 Maret 1980
Jenis music favorit : Rock
Group : GIGI (2005 - Sekarang)
Pertama kali mulai mengenal perangkat drum di ketika masih kanak-kanak di Banjarmasin, di sewaktu itu rumahnya sering dipakai untuk latihan band oleh kakaknya. Hendy yang waktu itu masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar (1989) ingin sekali berguru pada Gilang Ramadhan. Sayang sekali alasannya padatnya jadwal Gilang, Hendy cuma berkesempatan belajar pada ajun Gilang yakni Lemmy Ibrahim di Farabi Indra Lesmana Workshop (sekolah musik yang dikontrol Indra Lesmana sewaktu itu).
PRоfіl Lеngkар

MANTAN PERSONEL

1. Arіа Bаrоn
2. Rоnаld Frіѕtіаntо
3. Oреt Alаtаѕ
4. Budhу Hаrуоnо

DISCOGRAPHY /KUMPULAN ALBUM GIGI
* g i g i - 2009
* jalan kebenaran (2008)
* peace, love 'n respect (2007)
* pintu sorga (2006)
* next chapter (2006)
* raihlah kemenangan (repackage) (2005)
* raihlah kemenangan (2004)
* ost. brownies (2004)
* salam kedelapan (2003)
* the best of gigi (2002)
* untuk semua umur (2001)
* the greatest hits live (2000)
* baik (1999)
* kilas balik (1998)
* 2 x 2 (1997)
* 3/4 (1996)
* dunia (1995)
* angan (1994)
Dісоgrарhу Lеngkар

BAND GIGI
Dengan modal harapan yang serupa utamanya di bidang musik Aria Baron, Thomas Ramdhan, Ronald Fristianto, Dewa Budjana dan Armand Maulana pada tanggal 22 Maret 1994 mendirikan golongan musik yang diberi nama cukup unik : G I G I .

Kehadiran mereka di blantika musik Indonesia awalnya tidak langsung bersinar begitu saja, padahal kalau dilihat dari penampilan , kesanggupan dan pengalaman-nya, mereka mampu dikategorikan sarat suatu group musik yang mesti diperhitungkan kehadirannya.

Album perdana “ ANGAN “ terjual 100.000 copy, suatu angka pemasaran yang sesungguhnya cukup tidak mengecewakan untuk sebuah group gres pada masa itu, terlebih kalau didengar dengan cermat bahwa pada album tersebut warna musik GIGI belum terlihat terperinci, mereka masih dalam proses pencarian, mereka masih memainkan musiknya berdasarkan kata hatinya sendiri-sendiri, kebutuhan group pada saat itu dipikirkan dan hasilnya belum mirip yang diinginkan.

Ada angin, publik mulai memperhatikan musik GIGI, menyadari hal tersebut merupakan peluang yang manis, mereka mulai membereskan segala bidang yang dianggap penting dalam berolah musik.
Dalam merencanakan album kedua konsep musik betul-betul dimatangkan dan disempurnakan dengan menimbang-nimbang analisa dan masukan-masukan yang diperoleh pada album pertama.
Selain itu untuk lebih memaksimalkan fokus personel GIGI dalam berolah musik, tanpa terusik hal-hal lain di luar musik, dibentuklah GIGI MANAGEMENT.

Kerja keras dan keteguhan membuahkan hasil yang manis, album kedua “ DUNIA “ yang dirilis tahun 1995 yakni sebuah pembuktian bahwa perjuangan mereka selama setahun tidaklah percuma.
Album dengan lagu hit “ Janji “ laku terjual 400.000 copy.
Tidak itu saja prestasi yang diperoleh , selain album ini ikut menaikan kembali usul akan album pertama, pada acara Indonesia Musik Emas yang dibarengi oleh group-group papan atas di Indonesia, GIGI dinobatkan selaku golongan musik terbaik.
Kondisi ini pula yang membuat lebih mudah GIGI MANAGEMENT untuk menggapai sasaran tahunannya.

September 1995 merupakan tahun cobaan, pada sewaktu dimana GIGI sedang tegar berkibar di atas, Aria Baron meninggalkan GIGI, pasalnya ingin melanjutkan sekolahnya di Amerika.
Akhirnya dilepaslah Baron dan GIGI tetap berjalan dengan komitmen tidak juga memperbesar personil pengganti ( walau banyak guitarist yang mau audisi).
kondisi mirip ini ternyata tidak bikin problem bermakna.
Terbukti pada April 1996 dikala GIGI me-rilis album ketiganya yang berjudul “ 3/4 “ masih banyak yang menyukainya. Album dengan lagu hit “ O O Oo Oo O “ ini laku terjual sama dengan album kedua kurang lebih nyaris 400.000 copy.
Sedangkan prestasi tahun 1996 yang diperoleh GIGI yakni selaku golongan musik paling bersinar 1996, Group Band terlaris 1996, dari Data management 48 kali show yang ditargetkan mampu tercapai 59 show, satu di antaranya di Amerika.


GIGI 1994 - 1996

Lagi-lagi ujian, semua duduk masalah yang ada di tahun 1995 bisa dituntaskan tiba lagi ditahun 1996, Thomas Ramdhan pada Mei 1996 mengundurkan diri disusul Ronald Fristianto pada November 1996.
Bukan saja management yang menyesalkan permasalahan ini terjadi namun penduduk musik pun demikian adanya.
Akhirnya apa boleh dikata demi menawarkan pertanggunganjawaban atas kewajibannya, GIGI (yang personelnya tinggal Dewa Budjana dan Armand Maulana saja) didukung sepenuhnya oleh Management menetapkan untuk tetap berlangsung dan mencari pemain pengganti.
Pilihannya yakni Opet Alatas ( Bass ) dan Budhy Haryono ( drum ).


GIGI 1996 - 1999
Tahun 1997 yakni tahun serba baru bagi GIGI. Selain dua pemain gres dan desain musik gres, perusahaan rekamannya pun baru.
Sebenarnya kondisi lain yang diinginkan harusnya gres juga, ternyata tidak begitu, Album yang diberi nama “ 2 X 2 “ yang mampu dibilang album tereksklusif GIGI tersebut yang proses pengambilan suaranya di kerjakan di Indonesia dan Amerika, proses penyempurnaan keseluruhan ( Mixing dan Mastering ) di kerjakan sepenuhnya di Amerika kurang dipromosikan secara optimal, jadinya album yang berafiliasi dengan Musisi Dunia mirip Billy Sheehan ( Bassist Mr. BIG ), Harry Kim dan Arturo Velasco ( Phil Collins Brass Sections ), Eric Marienthal ( Saxophone Solo ) hasil yang diperlukan tidak mirip yang ditargetkan.
Untung ada Program tour 100 Kota dari Management GIGI yang paling tidak menolong membuatkan pemasaran kaset.

Tahun 1998, merupakan tahun pembuktian bagi GIGI. Konsep musik yang sempat sedikit berubah selesai penyesuaian dengan personel yang gres, kini kembali mirip cirinya sediakala.
Pindah perusahaan rekaman ke Sony Music Indonesia yakni pilihan yang cocok. 19 Juni 1998, sepulangnya GIGI show di Malaysia , album “ KILAS BALIK “ di lempar kepasar.
Tidak disangka hasilnya, dengan koordinasi yang anggun antara Management GIGI dan Sony Music Indonesia mengemas penawaran khusus album, tingkat penjualan kasetnya terhitung laku keras.
Tidak saja di Jakarta atau di Pulau Jawa, dipulau yang lain pun penjualan kaset GIGI menjadi best seller untuk beberapa periode mingguan.
Sedangkan hits lagu “ Terbang “ duduk ditangga lagu terbaik radio di Indonesia tidak kurang dari 9 minggu, belum lagi lagu yang lain menyerupai “ Dimanakah kamu berada “ dan “ Rindukan Damai “.

Penjualan kaset dan CDnya meraih angka 300.000. Prestasi lain yang diperoleh ditahun 1998 pun sungguh menyenangkan mirip di Anugerah Musik Indonesia, GIGI menggondol beberapa katagori mirip Group Terbaik, Penyanyi Terbaik, Lagu Terbaik dan Nominasi Cover Kaset Terbaik.
Sedangkan dari media cetak GIGI dinobatkan selaku group pop rock terbaik 1998 dan group paling bersinar 1998.
Yang paling menggembirakan bagi GIGI di kondisi ekonomi Indonesia yang sedang parah begini sasaran management untuk mencapai 48 kegiatan/show dalam satu tahun ( terhitung Juni 1998 ) sudah terlampaui di simpulan tahun 1998 dengan 68 kegiatan/show.

GIGI tetap gigih dalam ber- Cita, menuntaskan Cipta untuk mendapatkan Citra.
Karena hal itu GIGI yang terdiri dari Armand Maulana ( Vocal ), Budhy Haryono ( Drum ), Dewa Budjana ( Guitar ) dan Opet Alatas ( Bass ) akan senantiasa berupaya melakukan terobosan gres dalam bermusik.

Tahun 1999, yakni tahun yang cukup suram bagi dunia musik Indonesia.
Dalam kondisi perekonomian yang dilanda krisis berkepanjangan sangat mensugesti aktivitas dan kehidupan bermusik. Bursa kaset, kegiatan show, kegiatan rekaman terasa ikut lesu darah.
Ditambah dengan suhu politik yang kian meninggi menjelang pemilu tahun ini, mengakibatkan bermacam prediksi dan ketidakpastian wacana kondisi pasca pemilu.
Demikian pula yang terjadi pada dunia musik. Banyak proyek-proyek rekaman tertunda menanti perkembangan politik dan ekonomi Indonesia.

Di tengah ketidakpastian dan kesemrawutan itulah GIGI tetap bertahan dan tetap terus berkarya.
Bahkan suasana muthakhir negeri tersayang ini terekspresikan dalam salah satu karya GIGI terbaru yang berjudul “1999,,,,Menangis”.

Bersamaan dengan HUTnya yang ke 5 bulan April 1999 yang ditandai dengan konser tunggal GIGI di Gedung Kesenian Jakarta yang bertajuk “Konser Balas Budi”, diluncurkan pula album ke 6 GIGI yang berjudul “BAIK” .
Ada yang istimewa di album keenam ini. “Si anak hilang” THOMAS RAMDHAN kembali memperkuat jajaran formasi GIGI yang posisinya di tiga tahun kemarin diisi oleh Opet Alatas.
Dan GIGI seakan mendapatkan kembali komponennya yang sempat hilang, yang bikin formulasi komposisi-komposisi GIGI kian kuat saja.
Dengan hits andalan “Hinakah” Album GIGI – BAIK menginjak bulan kedua sudah meraih penjualan 60.000 keping meskipun belum ditunjang dengan penawaran khusus penayangan video klipnya yang pribadi (dikarenakan kapling program di media televisi dikala itu didominasi oleh kampanye-kampanye parpol dan talk show bertemapolitik yang memang ratingnya sedang tinggi).

Dan….. Armand Maulana, Budhy Haryono, Dewa Budjana dan Thomas Ramdhan tetap berkeyakinan bahwa bagaimanapun keadaannya, apapun ujian dan rintangannya, dengan segenap kepiawaiannya berolah musik GIGI akan tetap menggigit di sanubari penggemarnya dan masyarakat kebanyakan.
Di tahun 1999 itu pula GIGI mengukir sejarah dalam karier musiknya dengan menggelar konser tunggal yang di beri nama “Konser Balas Budi” di Gedung Kesenian Jakarta dengan melibatkan puluhan pemain orkestra dalam konsernya itu.

Konser ini merupakan lisan balas budi GIGI untuk semua pihak yang turut menolong suksesnya GIGI.

Selain ditayangkan secara langsung dalam program ekslusif oleh Indosiar, konser ini juga direkam secara live dan album live tersebut dirilis pada pertengahan tahun 2000 dengan judul “GIGI GREATEST HITS LIVE IN CONCERT”


GIGI 2000 - 2004
Tahun 2000, selain album “GIGI GREATEST HITS LIVE IN CONCERT” yang dirilis oleh Sony Music Indonesia, Sony Music Malaysia merilis pula ALBUM GIGI yang merupakan kompilasi dari album “KILAS BALIK” dan album “BAIK”.

Agenda konser GIGI tahun 2000 ini cukup padat. Totalnya merupakan 86 konser, termasuk di dalamnya yakni konser di Malaysia, Brunei dan Jepang.

Tahun 2001 GIGI merilis Album ketujuh, yang berjudul “Untuk Semua Umur” dengan lagu andalan antara lain “Jomblo”, “Diva”. Album ini juga dirilis di Malaysia dengan label Sony Music Malaysia.

Hal lain yang layak dicatat yakni di antara deretan jadwal konser GIGI sepanjang tahun 2001 ada 3 buah konser yang digelar di manca negara yakni: California-USA, Tokyo-Jepang dan Malaysia.

Tahun 2002, sewindu sudah band GIGI genap berkarya semenjak terbentuk 22 April 1994 silam. Berkarya lewat lagu, GIGI mempunyai rona sendiri yang menghiasi raut wajah musik tanah air.
Berbagai aliran musik terolah baik lewat para personilnya yang sempat bongkar pasang sejak kemunculannya hingga terakhir GIGI didiami Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (Gitar) Thomas Ramdhan (Bass), dan Budhy Haryono (drummer).
Dari para personil berlatar belakang musik berlawanan itulah GIGI bisa menghidangkan musik berkualitas nan kaya.
Makara jangan heran kalau mereka cakap memainkan musik-musik ngepop-rock sampai beat jazz yang kadang ikut mengisi, atau eksperimen musik yang lain.

Di usia 8 tahun pulalah GIGI kembali mencetak album yang berisikan lagu-lagu hits yang pernah dilambungkan sekaligus melambungkan nama mereka selaku salah satu grup band besar Indonesia.
Lagu-lagu mirip Angan, Kuingin (Angan - 1994), Janji, Yang T'lah Berlalu/Nirwana (Dunia-1995), Oo….Oo….Oo…., Damainya Cinta (3/4), Terbang, Rindukan Damai (Kilas Balik-1998), Hinakah (Baik-1999), Jomblo (Semua Umur- 2001) masih sungguh erat di pendengaran kita.
Dengan lirik puitis dan irama yang mudah diingat tak pelak lagi, hit-hit GIGI sering terputar di banyak stasiun radio dan begitu juga klip-klipnya.

Album THE BEST OF GIGI yang dirilis pada bulan Juni 2002 ini menampung 14 lagu dimana dua diataranya yaitu dua lagu gres yang belum pernah dirilis sebelumnya, yakni Andai dan Jalan Di Bulan.
Kedua lagu ini mempunyai basic track musik yang serupa, yakni dari akustik, yang mengingatkan kembali para penggemar GIGI akan lagu-lagunya yang catchy dan easy listening.
Lagu Andai yang ciptakan pada periode Januari - Februari 2002 ini didaulat menjadi lagu unggulan di album ini. Ada dongeng menarik dari penggarapannya.
Waktu itu sempat terjadi perdebatan alot antar personil mengenai liriknya.
Armand yang menggarap lirik ini sempat menciptakan 3 versi lirik, dan risikonya pilihan jatuh pada model terakhir dimana lirik itu sesuai dengan melodi dan nuansa lagunya.
Isinya sendiri menceritakan perihal seorang pria yang meninggalkan selingkuhannya untuk dijadikan opsi kedua.
Video klip lagu Andai ini cukup unik, dimana tampil 'versi dadakan mirip Sheila On 7, Andy (/rif), Yuke (The Groove), dan masih banyak lagi.

Untuk lagu Jalan Di Bulan, GIGI menggarapnya sewaktu promo ke Malaysia.
Lagu ini menceritakan perihal bagaimana perasaan orang jatuh cinta itu, yang melayang serasa dibulan.

Lantas bagaimana pertimbangan GIGI sendiri mengenai album THE BEST OF GIGI ini.
'Album ini yakni persembahan terbaik dari GIGI. Dimana pilihan lagunya tidak terbatas pada lagu-lagu yang sudah hit saja, namun juga lagu-lagu lain yang bisa disebut selaku 'lagu eksperimen', mirip lagu Bumi Meringis dan Rindukan Damai,'kata Armand mewakili kawan dekat-temannya.

Dan Alhamdulillah album The best of GIGI sewaktu ini sudah meraih Double Platium Awards dari Sony Music, dan itu mempunyai arti pemasaran albumnya sudah melampaui 300.000 keping.

Salam Kedelapan

Inilah cara GIGI berucap salam terhadap dunia dengan melemparkan album terbarunya, Salam Kedelapan. Tahun 2003 bermakna tahun kesembilan bagi band bernama sederhana ini.
Lho tetapi kenapa judulnya Salam Kedelapan? "Ya alasannya ini yakni album ke-8, dan kebetulan proses rekaman dan penciptaannya sudah usai di tahun 2002 kemarin pas GIGI masih berusia 8 tahun," ucap Armand sang vokalis yang bersungguh-sungguh menulis lirik buat GIGI.

Selama tiga minggu GIGI ngendon di studio mereka menggodok materi album berikut proses mixing.
Materi sesungguhnya banyak tercipta di luar studio, menyerupai wangsit lirik yang tiba-tiba tiba sewaktu terkena macet atau wangsit lagu sewaktu di tengah-tengah tur.
Hasilnya genap sepuluh lagu mengisi album ini.

Dari sisi musik GIGI merasa Salam Kedelapan cerminan dari kondisi mereka yang sedang santai hasil istirahat selama 6 bulan yang ternyata berguna sekali dalam mengendurkan tekanan.
Begitu santai, inspirasi-pemikiran positif yang terbenam bisa timbul begitu saja.
Tambahan lagi GIGI gres pertama kali ini berkesempatan berkolaborasi dengan sound engineer Stephan Santoso.

"Permainan lepas kita berempat ketemu dengan ide-pemikiran gres Stephan bikin nuansa segar banyak tertuang di materi album terbaru kita ini.
Dari sisi teknik, album ini memang tampakmusik GIGI banyak mengalami hal gres, salah satunya merupakan kerja sama GIGI dengan Stephan.
Satu hal lagi yang mencolokdi sini tampilnya barisan lirik yang lebih lugas dan positif dan olah vokal yang tidak terlalu banyak improvisasi," ujar Armand melengkapi.

Alhasil album ini sarat dengan warna-warni GIGI yang mungkin bakal sedikit mengejutkan, namun tentunya menyegarkan.
Simak saja lagu pembuka album ini berjudul Terima Saja.
Gebukan drumnya dari permulaan lagu sampai epilog asyik banget, ditambah teriakan nanananana, Hoy…nanananana, Hoy… yang tidak mengecewakan bikin terkejut tetapi seru.
Kebayang kan kalau lagu ini dibawakan langsung oleh GIGI.
"Kadang dalam menulis lagu, kita mempertimbangkan bagaimana lagu ini akan dibawakan langsung nanti.
Mengingat kita menggemari aksi panggung yang memang sungguh-sungguh bisa main lepas di depan penikmat lagu GIGI dengan segala atraksi dan improvisasi.
Belum lagi dengan bernyanyi mirip ini kita bisa lebih berinteraksi dengan penonton yang ada.
Ini kan menarik dan membuat kita tambah semangat," tegas Armand lagi.

Tembang kedua GIGI melaju lambat dalam Perihal Cinta.
Temanya terlebih kalau bukan cinta.
Lagu yang liriknya digodok melalui sms antara Armand dan Thomas ini jadi lagu unggulan yang sudah banyak terdengar di radio-radio tanah air.
Dan sudah juga merajai banyak tangga lagu kita.
Untuk video klipnya, Dimas Djayadingrat menyiapkan suatu desain footage- dari dokumentasi perjalanan GIGI di Jakarta-Bandung dengan versi klipnya, Nirina.
Untuk tembang lembut yang lain ada Jatuh Padamu.
Dari judulnya lagi-lagi sudah bisa ditebak temanya apa. Dan lagi-lagi untuk liriknya yakni hasil rembukan duet Armand-Thomas.

Selebihnya GIGI lebih sering memainkan tempo yang medium dan lebih singkat mirip Kucari Yang Kau Mau, Salam, Wanita, Untukmu Teman, Ketakpastian, Rahasiaku dan Akhir Cerita.
Mereka juga banyak bermain dalam irama dan lirik lagu yang lebih ceplas-ceplos.
Seperti keunikan komposisi gagah berjudul Rahasiaku yang menceritakan keangkuhan seorang lelaki atas kejantanannya.

Secara keseluruhan album terbaru GIGI ini melaju dengan tempo sedang yang rancak.
Entah itu dari sound drum, akustik dan distorsi gitarnya atau sound bass yang kalau dipadu memang segar di indera pendengaran.
Memaksimalkan energi empat sekawan ini dalam tuangan satu album.

Masa rehat GIGI sudah usai semenjak merilis album The Best of GIGI. Kini mereka kembali dengan sikap santai yang berbuah positif.
Kita sambut saja salam GIGI ini melalui Salam Kedelapan.


Tahun 2004, GIGI kembali ‘dihantui’ dengan syok ‘bongkar-pasang’ personel.
Dalam masa penggarapan album Original Sound Track (OST) Brownies Budhy Haryono alasannya satu dan lain hal tidak dapat ikut aktif di studio rekaman.
Karena album ini mesti segera selesai seiring dengan akan dirilisnya film Brownies, atas pola dari Budhy dan akad personel GIGI yang lain dilibatkanlah Hendy selaku additional player mengambil alih posisi Budhy Haryono.

Album OST Brownies (yang termasuk album paling dinanti di tahun 2004 model majalah Hai No.32 TH. XXVIII) ini diramu dengan takaran 5 lagu gres, 3 lagu aransemen ulang dan 2 lagu yang dicomot dari album-album GIGI sebelumnya.
Hasilnya, sebuah pop yang manis, semanis mencicipi lezatnya BROWNIES.

Album dengan resep pop manis ditaburi lirik yang easy listening ini, hadir selaku album soundtrack film layar lebar dengan judul yang serupa, BROWNIES.
Film komedi romantik garapan sutradara Hanung Bramantyo ini dibintangi oleh Marcella Zallianty, Phillip, VJ Arie MTV dan Bucek.
Alur ceritanya sendiri mengisahkan perihal seorang gadis kosmopolit yang sedang mencari arti suatu cinta sejati.

GIGI diberi kepercayaan sarat oleh SINEMART, rumah buatan yang menggarap film layar lebar ini, untuk bikin soundtrack nya.
Inilah yang membuat GIGI tidak kehilangan warna walaupun GIGI mesti tetap berpatokan dengan skenario film Brownies tersebut.
Proses pengolahan lagu-lagu gres di album ini pun cukup sederhana.
Sembari membayangkan adegan per adegan yang akan muncul, GIGI duduk bareng menggelar workshop sambil memainkan gitar ‘kopong’ dan terciptalah 5 lagu gres yang lebih segar.

Kehadiran Hendy yang mengambil alih posisi Budhy sungguh berperan dialbum ini.
Hendy diberi fleksibilitas bermain sesuai dengan style-nya dan senantiasa dimintai pendapatnya dalam mengaransemen suatu lagu.
Additional drummer yang mempunyai nama lengkap Gusti Erhandy ini, pernah melaksanakan pekerjaan bareng dengan Erwin Gutawa Orchestra untuk konser-konser Chrisye dan Krisdayanti.

Bisa Saja ialah single yang dipilih untuk menjadi single pembuka album ini.
Lagu yang berirama pop-funky ini kental dengan suasan yang segar, liriknya bercerita sesuai dengan kisah dari film Brownies.
Kemudian ada sebuah lagu paten yang mengandalkan dentingan gitar akuistik Budjana.
Lagu tersebut dihadirkan pada suatu lagu yang berjudul Cinta Terakhir.
Lagu-lagu gres lainnya yang ada di album ini pun tidak kalah asik untuk dinikmati.
Termasuk 3 lagu lawas yang diaransemen ulang.

Ketiga lagu yang diaransemen ulang tersebut kian enak disimak dan betul-betul jauh berlainan dari versi awalnya.
Simak saja lagu Jatuh Padamu, yang diambil dari album SALAM KEDELAPAN (2003).
Dilagu ini, GIGI tampil mempersembahkan Indra Lesmana pada Rhodes.
Hasilnya, suatu lagu yang melankolis.
Lagu Selamat Datang Asmara pun tak tanggung-tanggung diaransemen ulang.
GIGI merombak lagu yang dialbum asalnya, UNTUK SEMUA UMUR (2001), tampil dalam format full band, disini tampil dengan format akuistik.
Dan lagu Tanpamu Sepi dari album BAIK (1999), juga dipilih untuk masuk dalam album ini.
Lagu ini menjadi lebih nge-beat dan kian enak disimak.

Album ini selaku pemanasan sebelum menyaksikan film layar lebarnya yang rencananya akan diputar dijaringan bioskop 21 bulan Januari tahun depan.
Film yang pastinya bakalan ditunggu-tunggu, karna perpaduan antara kisah komedi romantis dengan musik GIGI yang ringan.
Takaran yang cocok ini, diyakini membuat Brownies ini makin lembut sekaligus legit dan menenteng GIGI Kita tersenyum sarat cinta tatkala menyimak dan menyaksikan BROWNIES.


Apa jadinya kalau lagu-lagu rohani Islam yang syahdu mirip Tuhan-nya Bimbo, di ‘acak-acak’ sama GIGI.
Bakal menuai pro dan kontra kah?
Tepat dua hari menjelang Ramadhan tahun 2004 ini GIGI meluncurkan album berjudul RAIHLAH KEMENANGAN, sebuah album religi yang mengangkat lagu-lagu rohani legendaris plus lagu karya GIGI sendiri. Apa sih yang mendorong mereka merilis album ini.

Konsep album ini sudah dirumuskan semenjak satu tahun yang kemudian.
Berangkat dari keprihatinan GIGI atas kurangnya apresiasi bawah umur jaman sekarang terhadap seni bernafaskan islami.

"Pernah gue bawain salah satu lagu islami Bimbo di depan keponakan yang masih ABG, dan komentarnya, kok bawain lagu cupu (renta) begitu sih," kisah Armand.

Dari pengalaman itu beliau menyimpulkan bahwa belum dewasa zaman kini mungkin kurang mengenal musik-musik islami alasannya seleranya kurang pas dengan mereka.
Jadi kenapa musik dan aransemennya tidak dibikin mendekati selera mereka, sehingga bila mereka suka, akan menyanyikan dan syukur-syukur bisa menghayati makna lirik yang tergantung didalamnya.

Proses pengolahan album sendiri tidak mengalami hambatan yang memiliki arti.
Dewa Budjana yang notabene bukan muslim mendukung sepenuhnya, alasannya apa yang mereka kerjakan ini toh juga bisa diatasnamakan selaku apresiasi seni.

Akhirnya terkumpulah 10 lagu yang dikemas dalam album bertajuk Raihlah Kemenangan.
Delapan lagu diambil dari lagu-lagu islami yang selama ini memang sudah sungguh familiar.
Sebutlah lagu mirip Tuhan (Sam Bimbo), Rindu Rasul (Sam Bimbo, Taufik Ismail), Ketika Tangan dan Kaki Berkata (Chrisye, Taufik Ismail).
GIGI sendiri membawakan dua lagu ciptaan sendiri yakni Hilang dan Karunia-Mu.
"Lagu Hilang dari album GIGI ¾ yang diaransemen ulang.
Kebetulan liriknya ihwal ketuhanan.
Sedangkan lagu Karunia-Mu, ciptaan Thomas, sesungguhnya yakni materi untuk materi album ke-9, alasannya liriknya juga wacana ketuhanan jadi cocok untuk dimasukkan di album ini," terang Armand.

ROCK HABIS

Jangan terkejut bila mendapati lagu–lagu di album ini beda dari pakem kebanyakan lagu islami.
Pokoknya ngerock habis.
Lagu Tuhan yang aslinya syahdu dan mendayu, digubah habis menjadi ngerock ala GIGI, dengan adanya tarikan gitar distorsi dan isian brass section.
Mantap dan berisi.
Tak salah lagi jikalau lagu yang senantiasa menjadi anthem pada setiap bulan Ramadhan ini dipilih selaku hit jagoan.

Pada lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata, GIGI menyuguhkannya dengan style rock yang digabung dengan isian rap.
Hasilnya, sungguh menggetarkan!
Pada lagu Lailatul Qadar, kocokan gitar dan drum digeber dengan tempo cepat, dengan loop – loop yang membalut lengkingan vokal Armand.

Tidak semua lagi diusung dengan style rock.
Dalam lagu Keagungan Tuhan yang aslinya memang bertempo pelan, dibawakan secara simple dengan petikan gitar yang ritmis.
Sementara selaku penutup, dipilihlah Raihlah Kemenangan, lagu berimama mid tempo dengan alunan gema takbir yang bersahut-sahutan.

Dengan segenap musik yang diaransemen sedemikian rupa ini GIGI berharap bisa masuk ke selera penggemar muda.
Kalaupun ada yang kontra terhadap karya ini merupakan sah- sah saja.
Yang pasti musik yakni serpihan dari seni, dan semua orang berhak untuk menginterpretasikan.
Yang penting esensi dari lagu-lagu yang ada di album ini tidak berkurang kadarnya.

Untuk mendukung album ini, GIGI siap menggeber tur ke lebih dari 15 kota di Jabotabek, Jabar, dan Jateng dalam tur bertajuk MUSIK NGABUBURIT DAN GEMA RAMADHAN.
Konser yang digelar menjelang buka puasa ini akan diisi juga dengan Dai populer Gito Rollies dan Sujiwo Tedjo.
Semoga apa yang sudah diupayakan GIGI ini dapat diterima oleh penduduk selaku fasilitas hiburan yang positif. Amien.

Dan………setelah penggarapan dua album serta puluhan konser di paruh tahun 2004, ‘kebersamaan’ Hendy di GIGI selaku additional player jadinya resmi diproklamirkan selaku drummer GIGI.
Raihlah Kemenangan (Repackage)

Setelah berhasil dengan album rohani RAIHLAH KEMENANGAN yang dirilis tahun kemudian, kini GIGI mengemas ulang album itu. Kali ini Armand (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bass), dan Hendy (drum) menambahkan dua buah lagu daur ulang, yakni Perdamaian dan I’Tiraf.
Jadilah album RAIHLAH KEMENANGAN REPACKGE yang diluncurkan tepat pada 19 September 2005.

Alasan apa yang mendasari GIGI mengemas album repackage tersebut ?

“Pihak label (SONY BMG) lah yang meminta kita untuk merilis sehabis menyaksikan keberhasilan dari pemasaran album Raihlah Kemenangan.
Waktu itu ada 4 lagu yang disodorkan, dan kami pilih lagu Perdamaian dan I’tiraf.
Kami menggarapnya sekitar empat hari, tepatnya sebelum kami berangkat ke Amerika untuk menggelar “GIGI East Coast America Tour 2005,” tutur Armand.

Kenapa pilihan jatuh di dua lagu itu ?

“Lagu Perdamaian tuh legend banget diantara lagu-lagu marawis atau qasidah-an. Dan liriknya sangat cocok dengan kondisi dunia utamanya bangsa Indonesia dikala ini. Ada peledakan bom di Bali , kondisi Aceh yang belum sepenuhnya pulih, dan banyak lagi,” jelasnya lagi.

Lagu Perdamaian ciptaan Drs. H. Abu Ali Haidar yang versi aslinya sarat dengan irama marawis itu dibesut menjadi sungguh rock ultra modern khas GIGI tetapi tanpa kehilangan jati diri lagu itu.

Adapun lagu I’Tiraf, tembang rakyat karya Abu Nawas, sesuai dengan warna musik aslinya yang bertempo lambat, dibawakan oleh GIGI dengan sungguh syahdu, dengan variasi up beat tempo pada interlude.

Terjunnya GIGI dalam ranah musik religius ini menjadi terobosan berhasil mereka. Ini dimulai dari album RAIHLAH KEMENANGAN yang diirilis dua hari menjelang Ramadhan 2004. Publik dibikin ricuh mendengar lagu Tuhan (Sam Bimbo) yang mendayu dibesut menjadi sangat nge-rock. Demikian juga dengan lagu Rindu Rasul (Sam Bimbo, Taufik Ismail), Ketika Tangan dan Kaki Berkata (Chrisye, Taufik Ismail). Dan ternyata terobosan itu mendapat daerah di penduduk pencinta musik tanah air terutama belum sampaumur muda. Misi GIGI untuk mengenalkan musik bernafaskan islami dengan style dan aransemen selera anak muda mengena. Terbukti dalam setiap konser Ramadhan senantiasa dipenuhi para penggemar GIGI yang hapal nyaris semua lagu-lagu yang dibawakan.

Harapan GIGI persembahan RAIHLAH KEMENANGAN REPACKAGE ini pun mampu diterima mirip album sebelumnya. Semoga bisa masuk ke telinga dan hati penggemar GIGI semua. Amien.


Untuk mendukung album ini, GIGI siap menggeber RAMADHAN TOUR ke lebih dari 20 kota di Jabotabek, Jabar, dan Jateng. Sebagai kick off, mereka menggeber pentaspada 4 Oktober 2005 di Teater Tanah Air - Taman Mini Indonesia Indah pukul 8 malam. Mereka juga menggelar pertunjukan ke sejumlah pesantren dan berkolaboraso dengan anak-anak pesantren setempat.
Next Chapter

22 Maret 2006 GIGI tepat memasuki angka 12 tahun. Sebuah perjalanan yang panjang bagi suatu band yang pernah mengalami pasang surut di Industri musik. Bagaimana mereka mulai tumbuh, menjadi besar, mengalami kontradiksi internal yang berujung pada pergantian personil, mengalami masa-masa sewaktu menjadi rock star, hingga matang dalam kedewasaan.

Tepat di usia 12 tahun, mereka merilis album gres selaku bingkisan khusus untuk para GIGIKITA (istilah buat para penggemar GIGI). Album bertajuk NEXT CHAPTER, mengemas 11 tembang yang dibesut dalam konsep musik yang easy listening dalam bangun harmoni minimalis. Suatu kejutan bagi para penikmat musik GIGI manakala mereka biasanya mendapati musik GIGI yang kental dengan eksplorasi sound rock kini ditampilkan lebih rileks dan menyerupai usul ‘ayo kita menikmati musik tanpa mesti berpikir.’

Apakah GIGI memang berencana meninggalkan pakem musik yang selama ini teguh mereka pegang?

Baik Armand Maulana (vocal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bass), dan Gusti Hendy (drum), sepakat mengakui memang album terbaru ini lain dibandingkan dengan album-album sebelumnya. Menurut mereka proses pembuatan materi album ini betul-betul dijalankan dalam situasi yang santai dan rentang waktu yang cukup panjang. Mulai digarap sebelum dirilisnya album Raihlah Kemenangan Repackage, kemudian sempat break alasannya tur ke Amerika, sampai digarap secara intens pada sebulan terakhir sebelum dirilis.

Suasana yang kalem berpengaruh pada proses kreatifnya, sehingga tak ayal membuahkan karya yang terkesan lebih rileks.

“Kita tidak mematok lagu ini musti begini atau begitu, namun begitu dimasak di studio hasilnya memang punya rasa yang serupa yakni mood yang kalem, “terang Budjana.

Thomas juga sependapat. Menurut pembetot bass ini beberapa lagu dasar memang upbeat dan nge-rock, tetapi begitu digarap lagi, ujung-ujungnya beatnya medium.

Apapun hasilnya, yang tentu album ini yakni murni pencapaian GIGI sewaktu ini yang apa adanya. Walaupun album ini kesannya kalem, proses penggarapannya tetap sesuai prosedur GIGI. Hasilnya, baik sound maupun aransemen tetap terjaga kerapihannya. Bahkan keselarasan rhythm section-nya pun lebih mantap di album ini. Menurut Thomas, baik dirinya maupun Hendy selaku pemegang rhythm sungguh komunikatif. Proses ‘pacaran’ yang dimulai semenjak masuknya Hendy di album OST. Brownies sudah hingga pada tahap mengetahui satu sama lain. Hasilnya, dikala penggarapan album pun relatif gampang dan ‘hidup.’

DARI TEMA CINTA HINGGA SOSIAL

Tema cinta tetap kental di album ini, yang diungkapkan secara lugas dan apa adanya. Misalnya dalam lagu Kepastian Yang Kutunggu, yang menjadi hit unggulan, bertutur wacana kegalauan seseorang yang sedang menanti kepastian cinta. Selain itu yakni tema sosial, yakni kepedulian GIGI akan nasib bangsa yang diungkapkan dalam dua lagu yaitu Indonesia dan Satu.

MAKNA 12 TAHUN

Bagi GIGI memaknai angka 12 tahun tidaklah muluk. Bagi mereka masih bisa tetap bermain musik, tetap dalam satu visi dan energi yang serupa, yakni pencapaian yang hebat.
Pintu Sorga

Sungguh suatu kenikmatan manakala kita masih diberi potensi untuk berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan 1427 H. Bagi golongan band GIGI, peluang itu tidak mereka sia-siakan. Saatnyalah GIGI kembali melaksanakan syiar Islami dengan cara mereka sendiri. Ya, menyambut Ramadhan, GIGI merilis album rohani terbarunya berjudul PINTU SORGA. Ini yakni kali ketiga GIGI terjun dalam ranah musik Islami setelah sebelumnya berhasil merilis album Raihlah Kemenangan (2004) dan Raihlah Kemenangan Repackage (2005).

PINTU SORGA menampilkan 10 tembang rohani Islam dimana pada umumnya isinya merupakan lagu Islami terkenal yang musiknya diaransemen ulang secara segar oleh GIGI dengan nafas pop, rock, hingga punk dan new wave.

Single yang dijagokan yakni PINTU SORGA. Lagu tradisional yang aslinya berasal dari Syria ini dibesut secara full rock dengan menggamit pujangga Taufiq Ismail selaku penulis lirik lagu. Taufiq Ismail dengan kepiawaiannya merangkai lirik-lirik puitis, menuturkan mengenai anak insan yang berupaya untuk menggapai pintu sorga, mencari keridhaan Allah SWT.

Dari segi musikalitas, GIGI tampil secara variatif. Simak saja dalam Sajadah Panjang. Lagu yang model aslinya dinyanyikan oleh Bimbo dengan syahdu tersebut dibesut dengan hentakan terbaru rock. Atau dalam lagu Sahur Tiba, karya AT. Mahmud, yang memperlihatkan secara unik paduan bunyi Gigikita (penggemar GIGI) dan deretan pemain brass section. Sedangkan pada lagu Damai Bersamamu, GIGI tampil dengan menyuguhkan bintang tamu Andi Rianto pada piano. Dari sepuluh tembang yang ada, dua diantaranya yaitu lagu karya GIGI sendiri. Yaitu Kehendak-Mu, yang sebelumnya masuk dalam album kompilasi KITA UNTUK MEREKA. Serta lagu berjudul Dosa Ini, dimana musiknya diciptakan oleh Dewa Budjana, dan lirik digarap oleh Armand.

Dilihat dari isi materi lagu yang kuat, album PINTU SORGA ini diperlukan mampu meraih kesuksesan menyerupai di album Raihlah Kemenangan. Dan yang lebih penting lagi, menjadi fasilitas syiar alternatif untuk belum remaja muda Indonesia.
PEACE, LOVE ‘N RESPECT

Musik merupakan pengikat kebersamaan kami. Kami hidup untuk musik dan musik pulalah yang menghidupi kami. Sampai kapanpun kami akan terus mempunyai passion di musik. Inilah resep yang bikin kita bertahan hingga tiga belas tahun. (Armand Maulana – vokalis GIGI).

Di usia ketigabelas ini GIGI kembali berkarya melalui album berjudul PEACE, LOVE ‘N RESPECT, yang sesungguhnya merupakan kalimat ikon GIGI yang senantiasa diucapkan mereka dari tahun 1995 dan gres sekarang balasannya kalimat tersebut dijadikan title album. Berbeda dari album-album sebelumnya, kali ini Armand Maulana (vocal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bass), dan Gusti Hendy (drum), mengemasnya dengan format akustik (unplugged).

“Ide menciptakan akustik album pundak-membahu sudah timbul semenjak lima tahun kemudian. Kebetulan GIGIKITA (penggemar GIGI) juga banyak meminta kita membuat format ibarat itu. Dan ini yakni album yang belum pernah dibikin oleh GIGI selama 13 tahun berada di musik Indonesia” terang Armand.

BUTUH KREATIVITAS TINGGI

Kalau sebelumnya GIGI membuat format akustik untuk satu lagu dalam satu album, kini mereka mesti bikin untuk satu album full. Di pendengaran awam, akustik itu identik dengan musik genjrang genjreng belaka. Padahal kemasan akustik itu menuntut rincian dan kreativitas dalam membuat aransemen dan sound sehingga satu lagu dengan lagu yang lain tidak sama. Kaprikornus tidak terbayang bagaimana seru dan putus asa-nya mereka mengulik lagu di studio (kabarnya GIGI khusus dibuatkan studio gres oleh Pos Entertainment, managemen yang membawahi mereka, sehingga mereka konsen menggarap album). Hendy sang penggebuk drum mengaku butuh waktu 14 jam take rekaman untuk mampu sound yang pas. Sementara Budjana mesti bereksplorasi dengan cuma berbekal gitar string dan nylon. Atau Thomas yang harus menyesuaikan biar line bass-nya selaras dengan gebukan drum. Sedangkan Armand yang mengisi vokal ditantang menciptakan bunyi sebersih mungkin tanpa sound effect pada suaranya kecuali reverb dan delay.

NAKAL

Jangan terkejut bila mendengar lagu NAKAL yang digeber selaku single pertama. Lagu ini sarat dengan eksplorasi kejahilan masing-masing personil GIGI dalam bermusik dan iramanya sedikit keluar dari pakem musik GIGI. Lagu ini dibikin secara tidak sengaja dikala GIGI menanti grup band /rif menggelar general reherseal untuk suatu pementasan bareng. Awalnya lagu ini bercerita perihal pemanasan global, namun sehabis hasil listening session bareng orang – orang di kantor Pos Entertainment dan atas ajuan mereka, liriknya diubah menjadi lebih santai wacana seseorang yang tidak kuasa menahan rayuan maut seorang wanita.

Puas dengan lagu Nakal yang bikin adrenalin naik, kini saatnya mengendurkan saraf dengan nomor ballad bertajuk 11 Januari, dimana lagu ini diciptakan oleh Budjana dan liriknya ditulis oleh Armand. Lagu yang easy listening ini mempunyai lirik yang ‘dalam’ sekali ihwal sepasang insan yang ditakdirkan bareng dalam suka maupun murung. Tampilnya string section mengiringi petikan gitar makin membuat lagu ini kian apik.

Simak nomor lama ciptaan Thomas, Kembalilah Kasih, lagu yang pernah dibawakan oleh Anggun di album terakhirnya sebelum go international. Kalau Anggun membawakannya dengan gaya hard rock masa 90-an kini GIGI mendaurnya menjadi musik yang santai sarat ratapan kesedihan. Disini Indra Lesmana didaulat mengisi piano.

Lagu dengan tempo agak cepat bisa dirasakan dalam nomor menyerupai Matikan Cintaku atau Tuk Rasa……Tuk Cinta. Dua lagu ini mempunyai mood elektrik, namun GIGI mengimplementasikannya dengan gaya akustik. Tak ketinggalan menyeruak nomor vintage bergaya 70’an dalam lagu Percayalah, dimana ada permainan perkusi dari Adjie Rao yang semakin membangkitkan suasana.

Akhirnya PEACE, LOVE ‘N RESPECT tak sekedar album, tetapi manifestasi dari energi positif GIGI dalam berkiprah di industri musik tanpa kehilangan identitas diri.

Dan Hingga 2009 tercatat GIGI sudah mengeluarkan album sebanyak 17 Album.
Meski sering bergonta ganti PErsonel, tetapi Band GIGI tetap bisa berkarya dan memperlihatkan Konstribusi dalam dunia Musik Indonesia.
Berikut PErsonel GIGI hingga kini : Armand Maulana (Vokal), Dewa Budjana (Gitar), Thomas Ramdhan (Bass), Gusti Hendy (Drum).

GIGI MANAGEMENT (POS еntеrtаіnmеnt) :
Jl. Tеbеt Dаlаm IV E Nо.65 JAKARTA 1280
Tеl. 021 8315858 - 8315939,
Luki 0812 124 1722

Posting Komentar

© Suka Sejarah. All rights reserved. Developed by Jago Desain