Sejarah Stadion Utama Gelora Bung Karno

Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) merupakan sebuah stadion multi guna di Jakarta, Indonesia yang merupakan bab dari kompleks olahraga Gelanggang Olahraga Bung Karno.
Stadion ini lazimnya digunakan selaku arena pertarungan sepak bola tingkat internasional.
Stadion ini diberi nama Gelora BUng KArno untuk menghormati Soekarno, Presiden pertama Indonesia,
yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan wangsit pembangunan kompleks olahraga ini.

Aѕаl Uѕul Sеjаrаh Stаdіоn Gеlоrа Bung Kаrnо
Gelora Bung KArno dibangun berawal dari Presiden Soekarno dalam menyambut potensi dengan memperlihatkan Indonesia selaku tuan rumah perhelatan pesta olahrga akbar di Asia, Asian Games ke-IV.
Setelah disetujui, ia eksklusif menyuruh para bawahannya untuk secepatnya merancang suatu kompleks sentra olahraga moderen dan terlengkap sekaligus selaku taman public dan ruang terbuka hijau.
Bagaimana kisahnya sampai Senayan yang dijadikan selaku lokasi pembangunan?
dan pembangunan ini mengorbankan 4 desa dengan lebih 60.000 masyarakatyang harus hengkang dari kampung halamannya.

Dan pada dikala itu kompleks gelora Bung Karno sangatlah luas.
Hingga pada akhirnya keluasannya itu harus terbagi untuk pembangunan kantor-kantor pemerintahan dan swasta.

Pada 21 Juli 1962, Stadion Utama berkapasitas 100 ribu penonton sempurna dibangun.
Di awal Februari 1960, tepatnya pada tanggal 8 Februari Presiden pertama Ir Soekarno, (Bung Karno)
menancapkan tiang pancangStadion Utama selaku pencanangan pembangunan kompleks Asian Games IV, disaksikan wakil perdana menteri Uni Soviet, Anastas Mikoyan.

Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.
Ada hal yang istimewa perihal Stadion Utama ini.
Ciri khas bangunan ini yaitu ‘atap temu gelang’ berupa oval.
Sumbu panjang bangunan (utara-selatan) sepanjang 354 meter,
sumbu pendek (timur-barat) sepanjang 325 meter.

Stadion ini dikelilingi oleh jalan lingkar luar (athletic tracks) sepanjang 920 meter.
Bagian dalam terdapat lapangan sepakbola berukuran 105 x 70 meter, berikut lintasan berupa elips, dengan sumbu panjang 176,1 meter dan sumbu pendek 124,2 meter.

Dengan kapasitas sekitar 100.000 orang,
stadion yang mulai dibangun pada pertengahan tahun 1958 dan penyelesaian fase pertama-nya pada kuartal ketiga 1962 ini merupakan salah satu yang paling besar di dunia.
Menjelang Piala Asia 2007, dijalankan renovasi pada stadion yang mengurangi kapasitas stadion menjadi 88.083 penonton

Dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama Stadion ini diubah menjadi Stadion Utama Senayan.
Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998,
nama Stadion ini dikembalikan terhadap namanya semula lewat Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.
Yaitu Stadion Gelora Bung Karno.

Pengelola stadion ini yakni Yayasan Gelora Bung Karno, yang hingga saat ini masih diandalkan selaku operator kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno.

Pada periode Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan ini, terjadi banyak penyimpangan sehingga daerah Geloran Bung Karno yang semula luasnya 279,1 hektar ini sudah menyusut hingga tinggal 136,84 hektar ( 49 % ) saja.

Dari jumlah yang 51 % itu, 67,52 hektar atau sekitar 24,2 % dari luas semula dipakai untuk banyak sekali bangunan pemerintah mirip gedung MPR/parlemen, Kantor Departemen Kehutanan, Kantor Departemen Pendidikan Nasional, Gedung TVRI, Graha Pemuda, Kantor Keluragan Gelora, SMU Negeri 24, Puskesmas, dan rumah makan.

Sisanya, yang 26,7 % atau 74,4 hektar disewakan atau dijual untuk aneka macam bangunan mirip misalnya terhadap Hotel Hilton, kompleks perdagangan Ratu Plaza, Hotel Mulia, Hotel Atlet Century Park (dahulu Wisma Atlet Senayan), Taman Ria Remaja Senayan, Wisma Fairbanks, Plaza Senayan dan aneka macam bangunan komersial yang lain.

Meski GBK kemudian “dikepung” aneka macam gedung yang bukan untuk olahraga, fungsinya selaku ruang terbuka hijau tetap dipertahankan.
Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Daerah DKI Jakarta disusun Rencana Induk Kawasan Gelora Senayan yang memutuskan Koefisien Dasar Bangunan maksimum 20 persen.

Ini mempunyai arti 80 persen dari luas tempat dipertahankan tetap terbuka.
Ruang terbuka itu kemudian menjadi 84 persen sehabis kenaikan dan penataan Parkir Timur menjadi Taman Parkir, pembangunan gerbang di Plasa Selatan (menghadap ke Jalan Jenderal Sudirman), dan penggantian pagar lingkungan pada pertengahan 2004.

Dan Sampai sewaktu ini SUGBK digunakan Oleh INdоnеѕіа, PSSI, Tіmnаѕ Indоnеѕіа, Lіgа Indоnеѕіа, dan Tim Persija Jakarta

Diambil dari Berbagai Sumber.

Posting Komentar

© Suka Sejarah. All rights reserved. Developed by Jago Desain