Mengenal Suku Dayak Lawangan

Lawangan adalah salah satu subsuku bangsa Dayak Ngaju yang berdiam di Kalimantan Tengah. Subsuku bangsa Dayak Lawangan masih dapat dibagi atas 21 golongan kecil atau suku.

Kеlоmроk-kаlаngаn kесіl іtu іаlаh ѕuku Lаwаngаn Kаrаu, Sіngа Rаѕі, Pаku, Aуuѕ, Bаwu, Tаbuуаn Mаntаrаrаn, Mаlаng, Tаbuуаn Tеwеh, Mаngku Anаm, Nуumіt, Bаntіаn, Puruі, Tudung, Bukіt, Lео Arаk, Mungku, Bеnuwа, Bауаm, Lеmреr, Tungku Lаwаngаn, dаn Pаuk.


Orang Lawangan berdiam pada tujuh kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten Barito Selatan dan Barito Utara. Kecamatan yang dihuni orang Dayak Lawangan di Kabupaten Barito Selatan merupakan Kecamatan Dusun Tengah dan Pematang Karau. Di Kabupaten Barito Utara, orang Dayak Lawangan berdiam di Kecamatan Gunung Purei, Montalat, Gunung Timang, Tewoh Timur, dan Teweh Tengah.

Daerah Dayak Lawangan ini merupakan kawasan paling timur dari Provinsi Kalimantan Tengah, yang merupakan konferensi ujung timur lembah banto dan kaki barat Pegunungan Meratus Berbaris. Mereka pada umumnya berdiam di sepanjang pedoman sungai, namun ada pula yang bertempat tinggal di wilayah perladangan yang berjauhan dengan idesungai tertentu.

Pada tahun 1980, jumlah penduduk tujuh kecamatan tersebut 71.614 jiwa. Dalam jumlah tersebut tergolong para pendatang, misalnya orang Dayak Maanyan, sub-suku bangsa Dayak Ngaju, Bakumpai, dan anggota suku bangsa Banjar. Jumlah orang Dayak Lawangan sendiri tidak bisa dimengerti lagi secara pasti.

Ciri fisik orang Dayak Lawangan merupakan tinggi badan 150-160 sentimeter, paras lonjong dan tulang pipi menonjol, warna kulit sawo matang dan rambut hitam lurus atau ikal. Mereka memakai bahasa Lawangan dan menganut kepercayaan Keharingan. Berdasarkan sumber mitologi, mereka konon berasal dari Gunung Luwang atau Gunung Lobang di Kalimantan Timur.

Budaya Dayak Lawangan pernah mendapat sentuhan budaya Hindu. Candi agung gan Candi Laras yang terletak di bersahabat Amuntai, Kalimantan Selatan, merupakan bangunan yang dilakukan oleh orang-orang Maanyan dan Lawangan. Sentuhan kebudayaan Islam contohnya terlihat dari penggunaan ungkapan pengulu untuk menyebut pemimpin agama yang mengorganisir perkawinan.

Kedatangan penjajahan Belanda tidak memperlihatkan efek aktual bagi kebudayaan Dayak Lawangan. Zaman kemerdekaan menampilkan banyak perubahan kepada penduduk Dayak, terutama dengan masuknya pendidikan formal.

Mata pencaharian mereka belum menunjukkan diversifikasi yang besar. Mereka lazimnya berladang berpindah-pindah. Dalam rangka panenan di ladang, mereka mengembangkan sebuah tradisi menurut keyakinan. Hasil panen dibagi menjadi empat bagian. Seperempat bagian untuk keperluan petani beserta keluarganya, seperempat untuk kepentingan upacara keagamaan, seperempat didedikasikan bagi margasatwa, dan alasannya adalah itu tidak butuhdituai, belahan terakhir juga tidak dituai, melainkan dibiarkan gugur dan hancur menjadi tanah lagi dengan maksud menyuburkan tanah kembali.

Mata pencaharian yang lain yaitu meramu hasil hutan untuk mendapatkan madu, lilin, damar, rotan, getah, dan kayu pemuat bahtera. Perkebunan karet baru mereka kembangkan sejak awal masa ke-20. Alat-alat mereka antara lain beliung, bendo, pisau, peraut, tugal dan aniani.
Garis keturunan bersifat matrilineal, dengan budbahasa menetap sesudah nikah matrilokal, artinya sang suami menetap di lingkungan kerabat istri. Kekuasaan mertua sungguh besar dan seorang mertua mesti dihormati oleh menantu laki-lakinya. Apabila sang menantu melaksanakan kesalahan besar, ia akan dijatuhi hukum parakelah. Kalau ia dinyatakan mesti keluar dari keluarga mertuanya, segala haknya atas anak dan harta menjadi gugur.

Masyarakat Dayak Lawangan juga mengamalkan etika ganti tikar (sosorat), artinya jikalau sang istri meninggal, suami mesti kawin dengan kerabat perempuan istrinya itu. Adat ini berencana supaya pemilikan harta tetap berada pada mertua.

Sumbеr : Enѕіklореdі Suku Bаngѕа Dі Indоnеѕіа оlеh M. Junuѕ Mеlаlаtоа

Posting Komentar

© Suka Sejarah. All rights reserved. Developed by Jago Desain